Oleh :Acep Zam-zam Noor
Kita melaju dalam rintik gerimis Yang menghapus semua alamat Dari ingatanku. Udara seperti berombak Sungai memantulkan gema Napasmu gemetar Di ranting-ranting poplar
Jembatan itu mengangakan rahang Menyeret musim Yang meluncurkan perahu Dalam cuaca dingin. Senja menjadi ajaib Di tengah kebisuanmu Dan redupnya angin
Ke sudut-sudut kafe Tak ada yang perlu dilabuhkan Kecuali jejak matahari. Sementara kau dan aku Mungkin tak akan mengubah arah sunyi Dengan mencari kehangatan Pada gelas dan ciuman
Label: Acep Zam-zam Noor, sajak, syair, syair puisi
Oleh :Acep Zamzam Noor
Kau yang diselubungi asap
Kau yang mengendap seperti candu
Kau yang bersenandung dari balik penjara
Tanganmu buntung karena menyentuh matahari
Sedang kakimu lumpuh
Aku mencintaimu
Dengan lambung yang perih
Pikiran yang dikacaukan harga susu
Pemogokan serta kerusuhan yang meletus
Di mana-mana. Darah dan airmataku tumpah
Seperti timah panas yang dikucurkan ke telingan
Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu
Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin
Aku mereguk bensin dan menyemburkannya ke udara
Lalu bersama mereka akumelempari toko
Membakar pasar, gudang dan pabrik
Sebagai pernyataan cinta
Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa kartu kredit
Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan
Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi
Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi
Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya
Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu
Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya
Menentang penguasa atau memindahkan gunung berapi
ke tengah-tengah kota
Aku berjalan dengan membawa kayu di punggungku
Seperti kereta yang menyeret gerbong-gerbong kesedihan
Melintasi stasiun-stasiun yang sudah berganti nama
Kudengar bunyi rel yang pedih tengah menciptakan lagu
Gumpalan mendung meloloskan diri dari mataku
Menjadi halilintar yang meledakkan kemarahan
Pada tembok dan spanduk. Aku mencintaimu
Dengan mengerat lengan dan melubangi paru-paru
Aku mencintaimu dengan menghisap knalpot
Dan menelan butiran peluru
Wahai kau yang diselubungi asap
Wahai kau yang mengendap seperti candu
Wahai kau yang terus bersenandung meskipun sakit dan miskin
Wahai kau yang merindukan datangnya seorang pemimpin
Tunggulah aku yang akan segra menjemputmu
Dengan sebotol minuman keras
Label: Acep Zam-zam Noor, sajak, syair, syair puisi
Oleh :Acep Zam-zam Noor
Cahaya remang yang melumuri trotoar berbatu Menyentuh juga tiang-tiang lampu yang berukir indah Sepanjang jembatan itu. Seperti jemari senja yang lentik Cahaya merayapi tubuh jalanan, memanjati dinding-dinding pualam Lalu mengaburkan diri pada pusaran kabut yang berwarna:
Paris berkilauan dalam sebuah piramida kaca
Label: Acep Zam-zam Noor, sajak, syair, syair puisi
Oleh :Acep Zam-zam Noor
Ingin kulepaskan hasratku Ke pusat gairahmu Seperti peristiwa-peristiwa biasa Yang dikekalkan waktu Menjadi patung dan lukisan. Begitu pula jalan-jalan Kaki lima yang berliku Sungai besar Jembatan-jembatan tua Patung-patung serta lampu-lampunya
Sejak kulewati sebuah kastil dengan taman bunganya Kebun anggur tumbuh di dadaku Aku berjalan dengan lonceng di telinga Mendirikan menara bagi pendengaranku Lalu membayangkan sepasang air mancur Di kedua tanganku. Kumasuki semua butik dan museum Hingga aku menjadi sepatu di halaman toko buku angka-angka tahun berloncatan Hari-hari meloloskan diri Dari perangkap kesementaraan
Sungguh ingin kulekatkan gairahku Pada bunyi lonceng Katedralmu. Seperti adegan-adegan pertobatan Sepanjang dinding marmar yang kekal Atau dilumuri ambar dan kemiri -- Lalu aku berjalan sendiri Ke deretan bangku-bangku kosong itu Duduk, tersedu dan membusuk Bersama sajak-sajakku
Label: Acep Zam-zam Noor, sajak, syair, syair puisi
Oleh : Acep Zam-zam Noor
Aku masih digayuti kabut yang semalam melaju dalam tidurku Melewati petak-petak ladang, tangki air dan lengkung biru Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang kecoklatan Jalan-jalan kecil yang melingkar serta sebuah sungai Yang berliku membelah perkampungan Semuanya bermuara di mataku
Ini masih awal musim semi, kureguk Hangatnya kopi serta bait-bait pendek Ungaretti Betapa angin telah menggemburkan permukaan tanah Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan wajah bebatuan Sebuah lapangan kota lama yang lahir kembali Dengan katedralnya yang lain
Ini masih awal musim semi Semburat matahari menerobos kaca dan sayup-sayup Kudengar dengus pepohonan yang menahan getar birahi Akar-akarnya. Ladang-ladang menghamparkan tikar pandan Sungguh musim semi telah membangunkan tidur bumi Yang panjang. Ketika langit menguraikan rambut ikalnya Sebuah kastil putih muncul dari balik pebukitan Dengan air mancurnya yang menyemburkan kilatan cahaya
Label: Acep Zam-zam Noor, sajak, syair, syair puisi