Blogger Template by Blogcrowds

Tampilkan postingan dengan label Beni R. Budiman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beni R. Budiman. Tampilkan semua postingan

Sanglot

Beni R. Budiman

Kesedihan bagaimanapun bukan harapan

Tapi biji benalu yang hinggap bersama

Burung. Dan matahari, angin, dan hujan

Mengirim gairah hidup yang baru bertahan



Dan paruh burung tak pernah mampu menolak

Makanan. Seperti juga kesedihan tak memilih

Tempat berteduh. Semua daerah baginya indah

Dan sebagai pohonan kita pun ibarat limban



Bagi segala kesedihan berjalan. Seperti kematian

Kesedihan menjelma kenyataan yang kita cintai

Mainan yang seringkali membuat takut dan bosan

Akuarium

Beni R. Budiman

Ikankah kau yang bicara dalam kaca

Berenang dalam lampu remang

Di luar pecinta terpana pada ekormu

Yang mengundang tualang



Segera angan pun terbang pada ranjang

Pada rumah miring di atas tebing

Di bawahnya perigi mengucurkan sunyi

Dan anak sungai menyanyikan lagu nyeri



Ikankah kau yang bercanda tanpa baju dan celana

Yang memampangkan peta bagi para pengembara

Dan berjanji memberi arti sepi



Di luar bejana dadaku bergetar

Ketika bibirmu menjilat karang

dan tubuhmu bergoyang

Gerimis Malam

Beni R. Budiman

Gerimis malam mematahkan remang mercury

Dan bintang jadi ngeri mengulum senyum

Hanya kelelawar berani keluar. Terbang

Di antara pohon jambu batu yang kelabu



Gerimis pun memaksa setiap daun kelimis

Seperti habis keramas. Genting-genting

Mengkilap dalam gelap. Bulan pun tiarap

Bayang dan gamang menari seperti dalam



Fiksi. Mengejar tubuh lelah seperti gabah

Basah. Dan garis gerimis seakan berbaris

Membentuk barikade-barikade yang bengis

Kerangkeng yang kekal dengan lagu dingin

Api Unggun

Beni R. Budiman

Malam itu tak ada kemarahan paling sempurna

Selain dingin dan gelap yang pekat. Kesepian

Mengekalkan suara burung hantu sebagai gerutu

Pinus dan trambesi mendesis dengan wajah lesi



Pada saat seperti itu, api unggunlah kerinduan

Tak tertahan itu. Panas yang mampu mencairkan

Kabut dan embun beku. Tumpukan kayu kering yang

Riang menjadi bara dan abu bagi api yang biru



Tapi, sempurnalah mimpi, rindu, dan angan-angan

Karena batu-batu tak mampu menumbuhkan nyala api

Dahan dan ranting menolak perapian. Dan gulita

Tak mencintai cahaya. Tapi memilih tanah basah

Di Antara Batu-batu

Beni R. Budiman

Dia antara batu-batu lumut menari dalam air kali

Ganggang berenang tenang. Dan capung melayang

Bersama belalang. Anak-anak mandi di riang perigi

Nada cinta pun mengalun dibawa angin yang santun



Tapi di antara batu-batu, tubuh siapa yang setia

Dalam keramba. Patok-patok yang ditancapkan pada

Batu cadas telah membuat kandas mimpi yang bebas

Kayu dan bambu menjadi kerangkeng yang mengurung



Lagu lenggang kangkung. Dan harapan hanya pada

Hujan topan yang bisa mengirim banjir bandang

Sekaligus doa bagi kemerdekaan yang tinggal mimpi

Di keramba mungkin aku hanya ikan yang menghamba

Menanti mati tiba sambil memuja cerita nestapa

Camping

Beni R. Budiman

Di bawah gunung kesepian bergulung dan memuncak

Dan pada hamparan daratan kuabadikan kecemasan

Tebing batu cadas dan pinus-pinus yang mendengus

Angin mengirim cuaca sembab. Hujan tertahan awan



Dan dalam suasana temaram pohon karet berbaris

Sujud dalam sakit yang sama. Memberat ke arah

Barat. Burung-burung pun datang dan pergi dalam

Irama yang pasti. Udara seakan sendu mambatu



Dan hidup seperti tumpukan tenda yang dibangun

Dan diruntuhkan. Dan kematian berkibar pada tiang

Bendera di suatu perkemahan. Nyanyian yang rindu

Dilantunkan petualang di antara lereng dan jurang

Fragmen Pandai Besi

Beni R. Budiman

Lubang angin menempa kering batok kelapa sebagai

Bara yang nyala. Sebuah per baja menderita dalam

Marah yang sempurna. Gubuk bilik hitam pun merah

Gerah seperti membangun rumah dari biji keringat



Bau resah menyengat. Lalu beberapa palu melagukan

Nada pilu bertalu. Bunyi dalam nyanyi pandai besi

Yang nyeri. Berlari seperti derap kaki gerombolan

Kavaleri. Musik berisik yang menggoda para paduka



Dalam tempat yang sendiri para pandai besi seperti

Geram yang berjanji. Mata air yang terus meneteskan

Doa basah pada bukit batu. Cinta yang keras kepala

Ombak yang setia memimpikan karang menjelma pedang.

Postingan Lama Beranda