Blogger Template by Blogcrowds

Refleksi April

Sutan Iwan Soekri Munaf

Berkali-kali kaki melangkah di pagi hari

Es di jalan dingin menggigit sepatu. Beku

Barangkali waktu menggoda jarak

dan perjalanan pun terbagi-bagi

Aku kehilangan lelah saat mencari-cari jejak

Menari-nari. Berpendar-pendar dalam matamu

Barangkali langkah tinggalkan seribu jalan. Sepi

menyapa berkali-kali malam tadi

Aku kembali ingin rasakan waktu dalam dekapmu

Meniti rindu yang berkepanjangan membelenggu

Semua membayang dalam setiap langkah

Barangkali kini engkau lelah dan tinggal dalam sejarah

Ya, aku tidak ingin lagi duduk dan bercakap ditemani bulan

Bercerita tentang seribu perjalanan dalam satu kematian

Aku kembali ingin bercakap sambil berjalan

Meninggalkan bulan. Meninggalkan tahun. Meninggalkan angan-angan

Berkali-kali mengukur jarak waktu. Berkali-kali engkau menunggu

Semua bisu



Langkah kaki masih menembus pagi hari

Es di jalan dingin menggigit sepatu. Beku



Jakarta, 1996

Begitulah

Sutan Iwan Soekri Munaf

Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggu. Ditemani

secangkir teh dan membebaskan diri dari kejaran waktu. Di sini

tidak ada negosiasi — Boleh terjadi transaksi demi transaksi

mengoyak-ngoyak kehidupan. Biarkan di lapangan terjadi

Bukan di sini!

Begitulah. Setiap senja aku selalu menunggumu. Menatap

ke kolam kecil dengan riak air di beranda. Senyap

Kini segala topeng lepas. Kita bisa bicara

Apa saja. Tanpa tema tanpa paksa

Namun langkah belum juga sampai...

Begitulah. Ditemanimu —Makan siang— melupakan sangsai

karena melahap kesempatan yang datang menggoda

Kita duduk dan kau mengemil emping. Cuma mata

banyak berkata. Kita bukan siapa-siapa

Sebab hari tidak pernah akan kembali,

begitu kan? Menatapmu —Sambil mencuri-curi dari balik menu

seperti remaja cinta pertama mau bercumbu

Padahal kita manusia perkasa yang bisa menghitung

rugi-laba sampai ke masa datang

dan selalu tepat mengambil risiko. Berani

Begitukah? Secangkir teh semakin dingin. Langkahmu belum

terdengar. Ikan mas di kolam beranda sudah enggan menari

Aku masih menunggu. Menunggumu.



Cililitan Kecil, 25 Oktober 1994

Sebaris Gerimis

Sutan Iwan Soekri Munaf

Sebaris gerimis

membasahi kembara panjang

Seorang tualang menjelang petang

belum juga mabuk mereguk waktu

dalam sepi meniti jarak

dan menggali mimpi lagi. Masuk

ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta

Ketika sukma menembus sela-sela hujan

Bisu pun beku

Aku berlari menyelimuti dingin

dan kembali mencari-cari

ke dalam hati, ke dalam jantung

Malam. Pun hamparan kisah menghampiri

Sebaris-sebaris. Tinggal

nama yang terbaca dalam kabut dinihari. Nanti

Aku ingin kembali



Jakarta, 1996

Ranjang Malam

Sutan Iwan Soekri Munaf

Manakala engkau tidak lagi terbaring di ranjang

Aku mencari bantal sepi. Sendiri

Barangkali lelah tadi siang akan segera hilang

Engkau akan mengirim bunga dalam mimpi

Aku menghirup: Wangi



(Semua tersimpan dalam dengkur

Suara merdu dari atas kasur)



Kalau pun aku bangun menggeliat panjang

Aku masih ingin bernafas menikmati bersihnya udara pagi hari

Tinggalkan seribu kisah dalam mimpi

Barangkali siang ini aku lupakan tualang

Engkau duduk di sudut ranjang

menunggu kuhirup sendumu



Sungguh!

Tangga

Sutan Iwan Soekri Munaf

Bulan perak di langit gelap. Mampir

Saat menangkap sorot mata jernih. Tubuh pun menjadi transparan

dan kau semakin jauh bergerak. Kendara waktu

mengantarkan rindu ke tempatmu

Bulan perak di langit gelap. Aku rindu

datang. Lihatlah, aku buat tangga menjulang

Aku naik anak tangga demi anak tangga. Kau

masih terlalu jauh. Langit menyembunyikanmu

Dari sini

Bulan perak di langit gelap. Berlayar

di samudera angkasa. Menyampaikan salam perpisahan

dan kembali esok malam menangkap wajahku. Barangkali!



Bandung, 7 Oktober 1988

Sanglot

Beni R. Budiman

Kesedihan bagaimanapun bukan harapan

Tapi biji benalu yang hinggap bersama

Burung. Dan matahari, angin, dan hujan

Mengirim gairah hidup yang baru bertahan



Dan paruh burung tak pernah mampu menolak

Makanan. Seperti juga kesedihan tak memilih

Tempat berteduh. Semua daerah baginya indah

Dan sebagai pohonan kita pun ibarat limban



Bagi segala kesedihan berjalan. Seperti kematian

Kesedihan menjelma kenyataan yang kita cintai

Mainan yang seringkali membuat takut dan bosan

Akuarium

Beni R. Budiman

Ikankah kau yang bicara dalam kaca

Berenang dalam lampu remang

Di luar pecinta terpana pada ekormu

Yang mengundang tualang



Segera angan pun terbang pada ranjang

Pada rumah miring di atas tebing

Di bawahnya perigi mengucurkan sunyi

Dan anak sungai menyanyikan lagu nyeri



Ikankah kau yang bercanda tanpa baju dan celana

Yang memampangkan peta bagi para pengembara

Dan berjanji memberi arti sepi



Di luar bejana dadaku bergetar

Ketika bibirmu menjilat karang

dan tubuhmu bergoyang

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda